GADO-GADO

Blog ini merupakan potret kehidupan saya yang seperti gado-gado. Semuanya bercampur aduk jadi satu disini dengan berbagai gaya bahasa, berbagai cara penulisan, dan berbagai macam hal. Disini terdapat segala hal yang saya pikirkan, saya lihat, saya dengar dan saya rasa. Maklumlah masih blogger pemula jadi ya masih gak karuan, but I like to learn by doing.
segala macam kritik dan saran pun saya terima dengan senang hati.
Terimakasih atas kunjungan anda.^^

Senin, 05 September 2011

Only Hope

Dari jendela kamar aku bisa melihat langit di luar begitu cerah, tapi tapi tidak dengan hatiku. Lantai kamar dipenuhi barang-barang dan tas ransel yang tergeletak begitu saja. Enggan untuk membereskannya.

Hari ini seharusnya aku berangkat ke jogja dan besok berangkat ke semarang. Euforia penantian IIWC (Indonesia International Work Camp) beberapa terakhir ini lenyap sudah, tergantikan oleh rasa was-was, kesal, sedih, takut, bersalah dan entah apa lagi. Ibu melarang ku pergi. Aku tidak menyalahkannya karena aku tau ibu melakukan ini demi aku. Demi kesehatanku.

Lengan kiriku panas. Ada benjolan kecil di bekas luka oprasiku 9 bulan yang lalu. Entah itu sambungan tulang yang mencuat lagi atau itu hanya platina saja dan aku terlalu berlebihan. Tapi perasaanku nggak enak. Semoga nggak terjadi masalah besar.

Sudah terlalu banyak aku menyusahkan orang tuaku. Aku adalah anak paling mahal diantara kakak adikku. Sejak kecil Rumah Sakit seperti rumah kedua bagiku. Tak terhitung lagi berapa kali aku telah pergi ke "hotel bintang 5" itu. Tak terhitung lagi jumlah uang yang telah dihabiskan disana. Apakah kali ini harus membuang uang banyak lagi? Entahlah, aku hanya bisa berharap yang terbaik.

I'm really sorry mom. I've been made you sad and flustered. I don't know what I've to do. :'(

Rabu, 10 Agustus 2011

Hidup Adalah Pilihan



Anda tau kerang?Ya, Kerang (Anadara sp) adalah hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak (moluska). Tetapi disini saya tidak akan membicarakan kerang sebagai heawan moluska. Disini saya ingin berbagi makna hidup yang di ambil dari kisah kerang.Seperti yang kita tahu bahwa kerang bisa menghsilkan mutiara dari butir pasir yang masuk ke tubuh kerang tersebut. Butir pasir yang yang masuk ke tubuh kerang sangat menyakitkan bagi tubuh kerang, sehingga untuk mengurangi rasa sakit itu, butir pasir yang masuk diselimuti lendir yang lama kelamaan berubah menjadi mutiara.Ketika kerang-kerang diambil oleh manusia, kerang-kerang tersebut akan dipisahkan antara kerang yang mengandung pasir dan tidak. Kerang yang tidak mengandung pasir akan dijual secara obral yang berujung menjadi kerang rebus atau hidangan yang lain, tetapi kerang yang mengandung pasir bisa terjual dengan harga 10kali lipat bahkan lebih dari harga kerang yang tidak mengandung pasir, karena kerang yang mengandung pasir akan menjadi kerang mutiara.jika anda adalah kerang, kerang manakah yang anda pilih? kerang rebus atau kerang mutiara?tentu anda akan memilih menjadi kerang mutiara. Tetapi untuk menjadi kerang mutiara tidaklah gampang, anda harus bisa membungkus pasir yang menyakitkan menjadi mutiara. Hidup adalah pilihan kawan. Jalan mana yang anda pilih, itulah yang masa depan anda. Semampret...!! ^^

*terinspirasi dari jamil azzaini, seorang social enterpreneur

Rabu, 03 Agustus 2011

Sarana Dakwah

PENDAHULUAN

Dakwah merupakan rangkaian aktifitas yang sangat berhubungan dengan sebuah nilai yang diyakini kebenarannya oleh seseorang atau sekelompok orang yang kemudian diteruskan dengan adanya aktifitas untuk menyampaikannya kepada orang lain agar sebisa mungkin diiyakan atau orang lain berbuat sama seperti yang dikehendakinya. Dakwah sebagai suatu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknlogi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adaptasi terhadap kemajuan itu. Artinya dakwah dituntut untuk dikemas dengan terapan sarana komunikasi sesuai dengan aneka mad’u (komunikan) yang dihadapi.

Laju perkembangan zaman berpacu dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak terkecuali teknologi komunikasi yang merupakan suatu sarana yang menghubungkan suatu masyarakat dengan masyarakat di bumi lain. Kecanggihan teknologi komunikasi ikut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya kegiatan dakwah sebagai salah satu pola penyampaian informasi dan upaya transfer ilmu pengetahauan. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses dakwah bisa terjadi dengan menggunakan berbagai sarana dakwah, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan hal itu. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berdampak positif sebab dengan demikian pesan dakwah dapat menyebar sangat cepat dengan jangkauan dan tempat yang sangat luas pula.



PEMBAHASAN

a. Pengertian
Secara etimologis sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan (Depdikbud, 1990: 784). Sarana juga bisa diartikan sebagai perantara untuk menyebar ide, sehingga ide tersebut bisa sampai kepada penerima.

Wasilah (sarana) untuk merealisasi sasaran-sasaran tersebut telah disebutkan oleh ustadz Hasan al-Banna rahimahullah: "Sarana kita dalam mengokohkan da'wah, dapat diketahui secara jelas, dan dapat dibaca oleh semua orang yang ingin mengetahui sejarah jama'ah. Ringkasan semua itu ada pada dua kalimat yakni: Iman dan amal, cinta dan persaudaraan (Ukhuwah). Dalam kesempatan lain, Ustadz al-juga mengatakan: "Sarana-sarana umum bagi da'wah tidak berubah, tidak berganti dan tidak lain dari aspek iman yang dalam (Imaan 'amiiq), pembentukan yang cermat (takwiin daqiiq), dan amal yang berkesinambungan (amal mutawashil)". Selain itu, juga menyebutkan bahwa rukun-rukun sarana dalam da'wah ada tiga: Manhaj yang benar (minhaj shahih), orang mu'min yang beramal (mu'minun 'amilun), dan pemimpin yang tangguh dan dipercaya (qiyadah hazimah mautsuq biha).

b. Urgensi Sarana Dakwah
Dakwah sebagai suatu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknlogi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adaptasi terhadap kemajuan itu. Artinya dakwah dituntut untuk dikemas dengan terapan sarana komunikasi sesuai dengan aneka mad’u (komunikan) yang dihadapi (M. Bahri Ghazali, 1997: 33).

Dalam suatu proses dakwah, seorang juru dakwah (da’i) dapat menggunakan berbagai sarana. Salah satu unsur keberhasilan dalam berdakwah adalah kepandaian seorang da’i dalam memilih dan menggunakan sarana yang ada (Adi Ssasono, Didin Hafiudin, A.M. Saefuddin et. all., 1998: 154).

Untuk mencapai sasaran dakwah da’i dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa sarana, bergantung pada tujuan yang ingin dicapai, pesan yang disampaiakn dan teknik yang dipergunakan. Mana yang terbaik dari sekian banyak sarana itu tidak dapat ditegaskan dengan pasti sebab masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan (Onong Uchjana Effendy, 2000: 37).

Dalam arus modernisasi ini, para da’i harus mampu menyesuaikan diri dengan mempergunakan serta memanfaatkan sarana itu. Di negara-negara barat dan di negara-negara maju, banyak dijumpai penggunaan media ini dalam misi relegius yang diselenggarakan oleh perkumpulan keagamaan, baik melalui media cetak maupun elektronik (Djamalul Abidin, 1996: 122).

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kepentingan dakwah terhadap adanya sarana yang tepat dalam berdakwah sangat urgen sekali, sehingga dapat dikatakan dengan sarana dakwah akan lebih mudah diterima oleh komunikan (mad’unya).

Pemanfaatan sarana dalam kegiatan dakwah mengakibatkan komunikasi antara da’i atau sasaran dakwahnya akan lebih dekat dan mudah diteima. Oleh karena itu aspek dakwah sangat erat kaitannya dengan kondisi sasaran dawah, artinya keragaman sarana dakwah harus sesuai dengan apa yang dibentuk oleh sasaran dakwah. Begitu pula sarana dakwah ini juga memerlukan kesesuian dengan bakat dan kemampuan da’inya, artinya penerapan media harus didukung oleh potensi da’i sebab sarana atau media dakwah pada dasarnya sebagai penyampaian pesan-pesan dakwah terhadap mad’unya.

c. Macam-macam Sarana Dakwah
Said bin Ali Al-Qahthani membagi sarana penunjang keberhasilan dakwah kepada dua bagian, yaitu:
1. Sarana tidak lansung, berupa persiapan-persiapan yang harus dilakukan seorang da’i sebelum melaksanakan tugas, seperti penguasaan materi dakwah, kesehatan dll.
2. Sarana lansung
Kedua point ini dapat direalisasikan melalui berbagai media, yaitu:
a. Melalui media diskusi kelompok, seminar-seminar yang lazim digunakan mahasiswa atau pelajar bahkan masyarakat umum.
b. Melalui media perorangan (face-to face comunikation) atau nasehat lansung kepada seseorang.
c. Melalui media buku-buku bacaan, brosur-brosur keagamaan, majallah dan surat kabar harian.
d. Melalui media elektronik seperti: TV, Radio, Film, Internet, dan sebagainya (Said bin Ali al-Qahthani, 1994: 102-104).


Bila dakwah dilihat sebagai salah satu tipe komunikasi secara umum maka menurut M. Bahri Ghazaly, MA, ada beberapa jenis sarana komunikasi yang dapat digunakan dalam kegiatan dakwah yaitu melalui:
1. Media Visual
Media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan dengan menggunakan indra penglihatan dalam menangkap datanya. Jadi matalah yang paling berperan dalam pengembangan dakwah. Sarana komunikasi yang berwujud alat yang menggunakan penglihatan sebagai pokok persoalannya terdiri dari jenis alat komunikasi yang sangat komplit. Bila medianya visual, maka sarana tersebut meliputi: film, slide, OHP, gambar, foto diam, komputer, grafik, poster, internet, media massa (majalah, koran, buletin, dll), buku,tulisan.
2. Media Auditif
Media auditif merupakan alat komunikasi yang berbentuk teknologi canggih yang berwujud hardware, media auditif dapat ditangkap melalui indra pendengaran. Perangkat auditif ini pada umumnya adalah alat-alat yang diopersioanalkan sebagai sarana penunjang kegiatan dakwah. Penyampaian materi dakwah melalui media auditif ini menyebabkan dapat terjangkaunya sasaran dakwah dalam jarak jauh. Alat-alat auditif ini sangat efektif untuk penyebaran informasi atau penyampaian kegiatan dakwah yang cenderung persuasif. Alat-alat ini meliputi; radio, tep recorder, telpon dan telegram.
3. Media Audio Visual
Media audio visual merupakan perangkat yang dapat ditangkap melalui indra pendengaran maupun penglihatan. Apabila dibandingkan dengan media yang telah dikemukakan sebelumnya, ternyata media audiovisual lebih paripurna, sebab media ini dapat dimanfaatkan oleh semua golongan masyarakat. Termasuk dalam media audio visual, saranya berupa: film, TV, video (M. Bahri Ghazali, 1997: 34-44).





d. Rincian Sarana Dakwah yang Harus dimiliki Da’i
a. Menyebarkan da'wah melalui semua sarana sampai dapat dipahami oleh opini umum dan mereka dapat menjadi penolong da'wah didorong oleh aqidah dan iman.
b. Menyaring semua unsur-unsur baik untuk dijadikan pilar pendukung yang kokoh bagi fikrah ishlah (perbaikan).
c. Memperjuangkan perundang-undangan hingga suara dakwah islam dapat berkumandang secara formal dan legal di pemerintahan sekaligus mendukungnya dan menjadi kekuatan dalam pelaksanaanya.
d. Manhaj atau metode yang benar.
e. Kaum mukminin yang beramal dan aktivis muslim.
f. Kepemimpinan yang tangguh dan dapat dipercaya.


e. Fungsi dan Manfaat Sarana Dakwah
1. Mempermudah objek dakwah dalam memahami materi yang disampaikan.
2. Agar lebih mudah dimengerti.
3. Membuat dakwah menjadi menarik.
4. Sebagai sarana alternative rujukan yang akurat.
5. Membantu percepatan gerak dakwah islam.
6. Senjata melawan ghazwul fikri.
7. Menegakkan ubudiyah karena Allah dan menancapkan sendi-sendi tauhid di dalam jiwa manusia.
8. Mengingatkan kepada kebaikan.
9. Melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan manhaj nabawy.








KESIMPULAN
Setelah dijelaskan dalam pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sarana dan media merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Media dakwah merupakan perantara penyampaian dakwah kepada mad’u, sedangkan sarana dakwah adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan dakwah tersebut. Misalnya terdapat dakwah di televisi dalam acara Mamah dan Aa’. Program Mamah dan Aa’ berperan sebagai media sedangkan televisi berperan sebagai sarana.

Ada berbagai macam sarana yang sering digunakan dalam penyampaian pesan dakwah baik pribadi maupun komunikasi secara umum. Namun yang perlu diketahui bahwa dengan aneka macam dan ragam sarana dakwah, kita dapat melihat, menerima, dan memilih berbagai macam pesan dakwah dalam Islam.

Pelaksanaan penyampaian pesan dakwah secara efektif yaitu dengan adanya aneka macam sarana, seorang komunikan (da’i) dapat memilih dan menggunakan sarana yang tepat dalam menyampaiakan pesan yang disampaiakan dan dengan sarana dakwah, komunikan dapat merasa dekat dengan khalayak.

Sarana dakwah mempunyai peranan yang sangat penting karena dengan penggunaan sarana yang tepat materi dakwah dapat diterima dengan mudah oleh mad’u.










DAFTAR PUSTAKA
(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
http://prodibpi.wordpress.com/2010/08/05/prospek-media-penyiaran-sebagai-wahana-dakwah-2/
Depdikbud. Arti Sarana secara etimologis.1990: 784.
(Adi Ssasono, Didin Hafiudin, A.M. Saefuddin et. all., 1998: 154).
M. Bahri Ghazali, MA. Tipe Komunikasi Sarana Dakwah.1997: 34-44.

Selasa, 02 Agustus 2011

Troubadour

William (Guilhem) of Poitou (1071-1127)

Joyous in love, I make my aim
forever deeper in Joy to be.
The perfect Joy's the goal for me:
so the most perfect lady I claim.
I've caught her eyes. All must exclaim:
the loveliest heard or seen is she.

You know I'd never base my fame
on brags. If ever we're to see
a flowering Joy, this Joy, burst free,
should bear such fruit no man can name,
lifting among the others a flame
that brightens in obscurity.

(tr. J. Lindsay)

The Zoo Job Story

One day a clown was visiting the zoo and attempted to earn some money by making a street performance. He acted and mimed perfectly some animal acts. As soon as he started to drive a crowd, a zoo keeper grabbed him and dragged him into his office. The zoo keeper explained to the clown that the zoo's most popular gorilla had died suddenly and the keeper was fear that attendance at the zoo would fall off. So he offered the clown a job to dress up as the gorilla until the zoo could get another one. The clown accepted this great opportunity.

So the next morning the clown put on the gorilla suit and entered the cage before the crowd came. He felt that it was a great job. He could sleep all he wanted, played and made fun of people and he drove bigger crowds than he ever did as a clown. He pretended the gorilla successfully.
However, eventually the crowds were tired of him for just swinging on tires. He began to notice that the people were paying more attention to the lion in the next cage. Not wanting to lose the attention of his audience, he decided to make a spectacular performance. He climbed to the top of his cage, crawled across a partition, and dangled from the top to the lion's cage. Of course, this made the lion furious, but the crowd people loved it.

At the end of the day the zoo keeper came and gave him a raise for being such a good attraction. Well, this went on for some time, he kept taunting the lion, the audience crowd grew a larger, and his salary kept going up. Then one terrible day happened. When he was dangling over the furious lion, he slipped and fell into the lion cage. The clown was really in big terrible situation. He was terrified.

Sooner the lion gathered itself and prepared to pounce. The clown was so scared. He could do nothing and he began to run round and round the cage with the lion close and closer behind. Finally, the lion could catch him. The clown started screaming and yelling, "Help me, help me!", but the lion was quick and pounces. The clown soon found himself flat on his back looking up at the angry lion and suddenly he heard a voice from the lion’s mouth;"Shut up you idiot! Do you want to get us both fired?".

Kusno Setiyo Utomo: MENJADI SEORANG JURNALIS ADALAH PANGGILAN JIWA


Sekilas wartawan senior ini terlihat kaku dan tidak banyak cakap. Namun saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, beliau sangat menyenangkan dan jawaban-jawaban yang diberikan sangat inspiratif.

Kusno Setiyo Utomo adalah seorang wartawan senior yang sudah menggeluti dunia jurnalistik selama sepuluh tahun. Kini beliau adalah penulis halaman utama Koran Radar Jogja. Pria asal Surakarta ini sudah mencintai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMA. Kecintaanya terhadap menulis inilah yang kemudian membawanya menjadi seorang jurnalis. Berawal dari mengikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik, beliau mulai berani mencoba untuk menulis rubrik di media massa. Karena bakatnya dalam menulis sudah tidak diragukan lagi, maka tulisan-tulisan beliau berahasil dimuat di beberapa media massa. Bahkan beliau berhasil menjadi wartawan tetap di Radar Jogja ketika masih kuliah.

“Saya menyukai semua hal dalam pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis, karena itu sudah menjadi panggilan jiwa bagi saya. Saya merasa senang ketika saya bisa mengungkapkan aspirasi masyarakat dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Ketika tulisan saya bisa diterima oleh public dan bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah, itu artinya fungsinya sebagai alat control bagi masyarakat dan pemerintah telah tercapai” tuturnya ketika ditanya suka dukanya sebagai seorang jurnalis.

Pria yang ditemui di gedung pemerintahan provinsi DIY ini sangat menikmati pekerjaanya sebagai seorang jurnalis. Selama menjadi jurnalis beliau sudah menjelajahi berbagai tempat untuk mendapatkan berita yang bisa dinikmati oleh para pembaca. Tidak ada rasa bosan untuk menjadi seorang jurnalis karena beliau selalu menemukan hal-hal baru. Beliau sangat senang ketika bertemu dengan banyak tokoh-tokoh terkemuka dan bisa berdialog secara langsung dengan mereka karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Dengan menjadi seorang jurnalis, beliau bisa mendapatkan banyak informasi dan ilmu-ilmu baru yang tidak di dapatkannya di bangku kuliah.

SETIAP PROFESI PUNYA RESIKO

Dibalik kesuksesannya menjadi seorang jurnalis, banyak kendala yang harus dihadapinya. Ketika sudah berhasil menjadi wartawan di Radar Jogja, semangat mudanya untuk mencari hal-hal baru di dunia luar sempat membuat skripsinya terkatung-katung selama hapir tiga tahun sehingga menunda kelulusannya sebagai sarjana komunikasi di Atmajaya dan sarjana hokum di Widyamataram. Bahkan baliau pernah dihajar orang yang tidak dikenal ketika pulang dari kantor sehingga baliau mengalami luka ringan di tubuhnya.

Walaupun banyak kendala yang dihadapinya selama menjadi seorang jurnalis, beliau tidak pernah mempunyai keinginan untuk berhenti menjadi seorang juralis. Semuanya adalah pilihan dan beliau yakin bahwa setiap profesi mempunyai resiko yang harus siap ditanggung oleh pemilik profesi tersebut. Tetapi ketika kita mencintai profesi yang dimiliki, kendala-kendala yang dihadapi tidaklah menjadi masalah besar.

ESENSI MENULIS

Menulis tidaklah sulit, semua itu adalah masalah kebiasaan, semakin sering kita menulis maka kualitas tulisan itu akan semakin baik. Kebanyakan orang mengalami kesulitan untuk mengawali tulisannya, tetapi ketika sudah bisa untuk mengawalinya maka semuanya akan mengalir begitu saja.

“Tidak ada trik dan tips khusus untuk membuat tulisan yang bagus. Untuk bisa menulis yang berkualitas membutuhkan proses dan diperlukan pembelajaran yang matang dan bimbingan. Ketika proses pembelajaran berjalan dengan lancer maka kematangan akan terbentuk disitu.” Ujarnya mengakhiri wawancara. (Mlathi Paramesthi)

BIODATA

Nama : Kusno Setiyo Utomo

Tempat/Tanggal Lahir : Surakarta, 28 november 1976

Alamat : Jl. Tata bumi, Jl. Godean, Sleman.

No. Telp : 081392261914

Pendidikan : - Sarjana Komunikasi Atmajaya
- Sarjana Hukum Widyamataram

Hobi : Menulis

Tim Tawakal raih juara pertama lomba debat ENGLISHVAGANZA

Jogja, 26/05/2011

Trio Tawakal Faisal-Sus-Lia berhasil melaju ke babak final. Meski dihadang Black Hawk, Tawakal sigap meyampaikan ide-idenya di pelataran hall Kampus 2 UAD. Setelah menaklukan rival finalnya, Tawakal akhirnya resmi dianugerahi juara I lomba debat ENGLISHVAGANZA, 22 Mei 2011 lalu.

Hari Minggu yang biasanya lengang, minggu lalu riuh rendah diramaikan oleh penonton grand final lomba debat ENGLISHVAGANZA. Pasalnya, dua tim andalan tengah beradu argument dalam babak penentuan juara tersebut. Black Hawk sebagai tim afirmatif dan tawakal di bangku oposisi, berkompetisi dengan motion “THBT National Sporting Team Should Reflect The Diversity of Natinal Population”. Setelah melalui debat panjang, Tawakal akhirnya meraih juara.

Tawakal yang digawangi Faisal Abidin, Dwi Lia Rakhmasari, dan Sus Marintan dari kelas E angkatan tahun 2008 berhadapan dengan Black Hawk yang beranggotakan Tasno Iwan, Desi Ari Desi, dan Annisa Atun Sholikhah dari kelas D angkatan tahun 2009. Acara yang juga dihadiri oleh bapak Azwar Abbas, S. Pd, M. Hum ini, berlangsung meriah, berlangsung lebih dari satu jam. Tak tanggung-tanggung final round ini dinilai langsung oleh tujuh senior Deco (Debating Comunity, red) sebagai adjudicator. Tak hanya tawakal yang bergemilang tetapi Edi Irawan dari tim Beowoulf juga berjaya karena mendapat nominasi the best speaker.

“Saya senang karena bisa membawa nama kelas saya dan sangat senang ketika melihat teman-teman antusias mengikuti perlombaan dalam ENGLISHVAGANZA. Ini merupakan fenomena yang sangat jarang saya temui di PBI selama hampir tiga tahun saya berada di sini.” Kata Faisal (21) ketika ditanya perasaanya menjadi sang juara dan komentarnya mengenai ENGLISHVAGANZA.

Jalan Kemenangan Tawakal tak bisa dikatakan mulus. Tawakal harus berkompetisi dengan 15 tim lainnya untuk bisa masuk ke babak quarter final. Kesuksesan tim Tawakal tidak berhenti sampai di quarter final tetapi terus berlanjut sampai semi final dan bahkan berhasil meraih juara pertama dalam lomba debat ini.

Kompetisi debat ini hanyalah satu dari sekian agenda ENGLISHVAGANZA. Agenda ini diselenggarakan oleh EDSA UAD, di ketuai Heri Setiawan. Selain debat, EnglishVaganza meriah dengan English Quick Quiz, adzan, futsal, essay, English comic, dan fotografi kemudian ditutup dengan Prominade Night and ARThibition sebagai penghujung acara. (Mlathi)